Cerita Keluarga PDP Covid-19 yang Meninggal: Kami Dikucilkan

Darmawat, istri mendiang Mustafa, yang meninggal dalam keadaan status PDP Covid-19.

TRIBUN KONAWE: UNAAHA – Suasana duka masih mendekap rumah mendiang Mustafa Amin (68), Selasa (2/6/2020). Dari luar tampak dua ucapan bela sungkawa tersandar di pagar rumah.

Saat itu hujan baru saja reda. Tetapi sedih belum juga reda. Duka yang dalam masih tampak pada air wajah penghuni rumah.

Sang kepala keluarga, Mustafa, mengembuskan napas terakhirnya, Kamis (28/5/2020) sekira pukul 09.35, di rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19 Konawe. Ia meninggal dengan status pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19. Sebuah status dengan stigma yang tidak baik dengan kondisi saat ini.

Lantaran meninggal dengan status pasien Covid-19, pemulasaraan hingga penguburan jasad pun dilakukan sesuai protokol. Istri almarhum, Darmawati (49) dan keluarganya mencoba tegar dengan kondisi itu. Mereka mencoba memaklumi semuanya demi kebaikan bersama.

Suasana rumah duka almarhum Mustafa.

Meninggalnya sang suami rupanya makin makin menyulut stigma negatif terhadap keluarga almarhum. “Ia meninggal karena Corona” kian menjadi perbincangan hangat. Baik di kalangan tetangga, kerabat bahkan keluarga besar almarhum. Hal itu kian diperparah lantaran hasil swab almarhum yang belum juga keluar.

Darmawati bercerita, stigma dari orang sekitarnya sudah mulai ada saat suaminya sudah di rujuk di RSD Covid-19, Senin (25/5/2020). Awalnya, ia hanya mengantarkan suaminya ke RS Kabupaten untuk berobat. Sebab, saat itu suaminya dalam kondisi lemas karena tidak punya nasfsu makan. Mustafa juga memiliki riwayat penyakit kulit yang sudah berlangsung lama.

Saat tiba di RS, suaminya diberi tindakan khusus. Ia bahkan sempat di rapid. Hasilnya, ternyata reaktif. Pasien pun diharuskan pindah ke RSD Covid-19.

Almarhum sebelumnya sempat menolak untuk dirujuk ke RSD Covid-19. Alasannya sederhana. Ia merasa tidak sedang terjangkiti Covid-19. Sebab, tiga bulan terakhir, sebelum isu Covid-19 merebak di Indonesia, ia sendiri sudah tidak pernah ke luar rumah. Apa lagi punya riwayat perjalanan ke Kendari, selama masa pandemi.

“Tapi setelah dibujuk sama perawat, yang kebetulan sepupu juga, akhir suami saya mau pindah,” ujar Darmawati.

Sejak masuk RSD dan ditetapkan sebagai PDP, keluarga Mustafa pun mulai mendapati stigma tidak baik dari orang sekitar rumah. Bahkan oleh kerabat dekatnya juga.

Stigma itu makin parah saat Mustafa mengembuskan napas terakhirnya, setelah beberapa hari dirawat di RSD sebagai PDP Covid-19. Keluarga almarhum bagai terkucilkan dari lingkungan dan orang terdekatnya.

Darmawati mengisahkan, saat suaminya meninggal, tak ada orang yang berani melayat ke rumah duka. Baik tetangga, maupun keluarganya. Alasannya, takut Corona.

“Yang datang hanya, dua asisten rumah saya. Dan beberapa orang yang dekat dengan kami,” kisahnya.

Tak hanya itu, orang tua Darmawati yang mengelola Toko Subur di Kecamatan Wawotobi ikut terkena imbas. Ikut terkucilkan dari tetangga-tetangganya.

“Bahkan pembantu yang biasa cuci pakaian di rumah orang tua kami, tidak diizinkan lagi mencuci di rumah tetangga lainnya. Alasannya, karena takut menularkan Corona,” jelasnya.

Pengucilan serupa juga didapatkan Suka (65) tahun. Ia merupakan tetangga yang selalu mengurus dan memandikan Mustafa semasa hidup.

“Anak saya menelpon, bilang Pa hati-hati ada warga BTN yang terkena Corona. Tapi saya yakin saja kalau almarhum tidak terjangkiti virus itu. Saya ini yang tiap hari sama-sama. Saya yang urus, saya yang gendong, jadi tahu betul kondisinya,” terangnya.

Haris Setiawan, Kakak dari Darmawati.

Imbas senada juga turut dirasakan kakak tertua Darmawati, Haris Setiawan (52). Ia yang kerap ke masjid bahkan sempat merasa tidak enak.

“Di masjid kadang merasa tidak enak, karena sudah ada suara-suara tidak enak yang saya dengar. Tapi saya yakin saja kalau itu tidak benar,” imbuhnya.

Tiga hari setelah wafatnya Mustafa, Minggu (31/5/2020) tim Covid-19 Konawe melalui juru bicara, dr. Dyah Nilasari merilis informasi membahagiakan. Hasil swab Mustafa dan 20 orang lainnya telah keluar. Hasilnya negatif.

Kabar itu pun membuat Darmawati dan keluarganya lega. Stigma negatif yang beberapa hari belakangan mereka pada mereka perlahan sirna. Keluarga mulai membuka diri. Tetangga-tetangga pun demikian.

“Kami bersyukur hasilnya negatif. Semoga ini bisa memperbaiki isu negatif dari keluarga besar kami, keluarga Toko Subur. Kami harap masyarakat Konawe tahu bahwa kami tidak seperti yang diisukan selama ini,” pungkasnya.

Laporan: Mas Jaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here