Gusli Paparkan Potensi Ketahanan Pangan Konawe ke Jendral Utusan Wantannas

Wakil Bupati Konawe, Gusli Topan Sabara berpose bersama para utusan Sekretaris Jendral Dewan Ketahanan Nasional (foto: Mas Jaya / Tribunkonawe.com)

TRIBUN KONAWE: UNAAHA – Wakil Bupati Konawe, Gusli Topan Sabara dan sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Konawe menerima kunjungan dari perwakilan Sekretaris Jendral Dewan Ketahanan Nasional (Setjen Wantannas) Republik Indonesia, Rabu (13/3/2019).

Mereka yang hadir dalam kunjungan itu, yakni Marsda TNI Dr. Sungkono, SE., M.Si., Deputi Deputi Pengembangan Setjen Wantannas; Brigjen TNI Mudansir, S.IP., MM., NDC., Pembantu Deputi Urusan Hankam Kedeputian Pengembangan Setjen Wantannas; Kolonel Inf Joko Setyo Putro, Analis Kebijakan Bidang Pengembangan Militer dan Kepolisian Kedeputian Pengembangan Setjen Wantannas; Kolonel Lek Ir. Yufie Syafari, Analis Kebijakan Bidang Pengembangan Mobilisasi dan Demobilisasi Kedeputian Pengembangan Setjen Wantannas; dan Kolonel Laut (KH) Dr. Dwi Ari Purwanto, M.Pd., Analis Kebijakan Bidang Pengembangan Bela Negara Kedeputian Pengembangan Setjen Wantannas.

Wakil Bupati Konawe, Gusli Topan Sabara bersama Marsda TNI Dr. Sungkono, SE., M.Si., Deputi Deputi Pengembangan Setjen Wantannas.

Kehadiran jendral bintang dua dan satu TNI dan anggotanya itu dalam rangka kunjungan kerja ke provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) dan intansi lain, mulai tanggal 11 hingga 14 Maret 2019. Tema kunjungan itu, yakni menggali potensi nasional dan wilayah Sultra untuk mendukung pertahanan dan keamanan negara dalam rangka ketahanan nasional.

Di hadapan para jendral dan anggotanya, Gusli memaparkan potensi ketahanan Konawe. Ia mengawali pemaparannya dari sejarah kejayaan Konawe.

Mantan Ketua DPRD Konawe itu menerangkan, Konawe pada zaman kerajaan ada yang disebut sebagai Sangia Inato. Sangia Intato sendiri adalah istilah yang merujuk pada raja yang termashur.

Dahulu, wilayah kerajaan Konawe terbagi atas empat bagian. Ada yang dikenal sebagai negeri tempat terbitnya Matahari, negeri terbenamnya Matahari, wilayah pertahanan kiri dan wilayah pertahanan kanan.

Brigjen TNI Mudansir, S.IP., MM., NDC., Pembantu Deputi Urusan Hankam Kedeputian Pengembangan Setjen Wantannas saat memberi masukan kepada Wabup Konawe terkait masalah ketahanan daerah.

“Jadi dalam hal ketahanan, leluhur kita terdahulu telah punya konsep yang matang untuk kejayaan Konawe,” kata Gusli.

Ketua DPD PAN Konawe itu mengungkapkan, APBD Konawe untuk tahun 2019 senilai Rp1,78 T. Dana sebesar itu akan menitik beratkan program Konawe Gemilang pada tiga program ketahanan pangan. Ketiganya, yakni program pertanian, peternakan dan program perikanan darat.

“Sejak dahulu kita telah mengenal istilah Mondau (bertani padi ladang), Walaka (mengembala ternak) dan Aepe (memelihara ikan air tawar). Hari ini potensi lokal itu akan kembangkan dengan meniupkan roh modernisasi untuk menuju Konawe Gemilang,” jelasnya.

Produk dari program prioritas tersebut lanjut Gusli, akan terealisasi dalam program sejuta ton gabah, sejuta ekor sapi dan seribu tambak perikanan darat. Dengan demikian, Gusli berharap Konawe dapat swasembada beras, daging dan ikan air tawar.

“Kita menarget Konawe tidak hanya mengambil kontrinusi swasembada di tingkat daerah. Tetapi menjadi bagian yang dapat berkontribusi nyata di tingkat nasional,” pungkasnya.

Sementara itu, Marsda TNI Dr. Sungkono, SE., M.Si., Deputi Deputi Pengembangan Setjen Wantannas mengapresiasi program dan visi misi bupati Konawe. Menurutnya, Konawe sudah punya konsep dan potensi yang baik dalam hal ketahanan pangan.

“Tinggal kita seimbangkan antara ekonomi, sosial dan kemananan. Untuk keamanannya sendiri koramil harus ditambah. Nanti dari Pemda bisa dibantu terkait tanah hibahnya,” tandas jendral TNI bintang dua tersebut.

Pihak Setjen Wantannas saat berbagi cendera mata berupa buku bela negara kepada Pemda Konawe yang diterima oleh Wabup, Gusli Topan Sabara.

Pada pertemuan tersebut, pihak Wantannas juga membuka diskusi terbuka. Kesempatan itu pun tak disia-siakan Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Konawe memberi masukan kepada tim Wantannas.

Akbar becerita, selama ini pemerintah dan TNI Polri selalu ada untuk petani saat hendak menanam padi. Namun ketika panen, petani dibiarkan sendiri.

“Artinya petani hanya disuruh menanam. Giliran panen mereka dibiarkan sendiri. Akibatnya, hasil-hasil panen itu tidak ada yang mengontrol. Petani itu berharap, saat menanam dan panen itu ada keterlibatan pemerintah dan TNI Polri di sana,” terang Akbar saat coba memberi masukan agar menjadi pertimbangan dari Wantannas.

Laporan: Mas Jaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here