Hampir Setahun Pasar Percontohan Tinanggea Terbengkalai

Pasar percontohan di Tinanggea ini akhirya terbengkalai setelah tidak diminati pedagang dan pembeli. Padahal, anggaran Kementerian yang digelontorkan untuk membangun pasar modern ini tidaklah sedikit.

TRIBUN KONAWE: ANDOOLO – Pasar Percontohan Tinanggea yang dulunya ramai pedagang maupun pembeli, kini tidak ada yang mau berdagang di Pasar tersebut.

Pasar Tinanggea dibangun melalui kerjasama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Konawe Selatan (Konsel) dan Kementrian Perdagangan dengan menggunakan dana APBN.

Pasar percontohan tersebut menghabiskan anggaran kurang lebih Rp10 miliar yang telah diresmikan Bupati Konawe Selatan, Alm H. Imran pertengahan April 2014 lalu. Sampai saat ini masih sepi dari aktifitas dan tak diminati satupun pedagang untuk berjualan.

Marwan, salah seorang pedagang mengungkap penyebab ketidaktertarikan mereka untuk berjualan dipasar percontohan tersebut. Menurutnya, pasar percontohan itu lokasinya kurang strategis. Makanya, jarang pembeli untuk datang.

“Lokasinya Kurang Strategis. Makanya tidak diminati pengunjung dan juga pedagang” ujarnya kepada awak media tribunkonawe.com, Rabu (23/03/2021)

Mawran menuturkan, posisi lokasi pasar yang kurang diminati pembeli membuat dirinya terpaksa untuk tidak berdangan di pasar percontohan itu.

Ia juga menjelaskan meskipun lokasi pasar berdekatan dengan Terminal Tinanggea tetapi tak mempengaruhi minat pembeli maupun minat masyarakat. Itu dikarenakan terminal tersebut tak beroperasi dengan baik.

Hal senada juga diungkapkan pedagang lain, Azis. Ia juga awalnya sempat berjualan dipasar percontohan akan tetapi harus gukung tikar dari tempat itu karena sepi pengunjung.

Para pedagang lebih betah di pasar lama karena lancar pengunjung.

“Pasar percontohan itu jarang sekali pembeli. Dagangan saya jarang laku. Kalau di sini (asar lama, red) allhamdulila lumayan setiap hari ada yang laku,” ungkapnya.

Azis menyarankan, pemerintah harus segera memberikan solusi agar para pedagang mau berjualan kembali di pasar baru tersebut. Ia juga menerangkan bahwa pasar baru Tinaggea sempat beroperasi kurang lebih dua tahun.

“Saya harap pemerintah bisa memberikan kami solusi,” harapnya.

Sementara itu, salah seorang pembeli bernama Lina mengatakan, duluanya ia tidak terlalu berminat ke pasar percontohan karena kebutuhan yang ia beli kadang tidak ada di tempat itu. Ia juga lebih memilih ke pasar lama karena masih banyak pedagang yang aktif di tempat itu.

“Pasar percontohan Tinanggea akan ramai pembeli kalau pedagan di pasar lama Tinanggea harus mau ditertibkan dan mau berjualan dipasar percontohan tersebut,” pungkasnya.

Laporan. Perliyansa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here