Jerit Hati Petani Konawe: Gabah Kami Cuma Dihargai Rp3.000 Pak

Wabup Konawe, Gusli Topan Sabara saat berbincang-bincang dengan pemilik penggilingan, UD. Sri Rezky Rahayu, Ketut Sulendra.

TRIBUN KONAWE: UNAAHA – Di beberapa kecamatan, sebelah Barat Konawe, musim panen padi telah tiba. Harapan petani membuncah. Sebentar lagi mereka bakal memetik hasil jerih payahnya.

Setidaknya begitulah yang barangkali petani bayangkan. Sebelum akhirnya para tengkulak datang menghancurkan mimpi indah itu.

Sore itu, Selasa (19/5/2020), waktu sudah menunjukan pukul 16.30 Wita. Wakil Bupati Konawe, Gusli Topan Sabara (GTS) langsung memerintahkan ajudan dan beberapa rekannya untuk bergegas.

Kali ini ia tinggalkan dulu mobil dinas bernomor polisi DT 02 A yang kerap menemaninya dalam perjalanan ke manapun. Ia memilih mengendarai motor trail miliknya. Teman baru yang kerap menemaninya saat hendak meninjau daerah luar ibu kota Unaaha.

GTS saat melihat-lihat hasil produksi salah satu penggilingan di Padangguni.

Beberapa menit kemudian, meluncurlah rombongan. Gusli memimpin perjalanan. Tujuannya, mengunjungi penggilingan dan petani di Kecamatan Padangguni.

Gusli hendak melakukan cek lapangan, terkait informasi harga gabah. Kabarnya, di sana harga sedang anjlok. Gusli ingin memastikan kebenaran informasi itu, biar jelas dan tidak menduga-duga.

Setelah setengah jam perjalanan, tibalah rombongan di sebuah gudang penggilingan UD Sri Rezki Rahayu, di Desa Alosika Kecamatan Padangguni. Di sana, Mantan Ketua DPRD Konawe itu disambut langsung pemilik penggilingan, Ketut Sulendra.

Dari Sulendra, Gusli menggali informasi, berapa si pemilik penggilingan membeli gabah petani. Sulendra pun menerangkan, bahwa ia memiliki banyak petani binaan. Hampir 50 persen petani di Padangguni jadi mitranya.

“Untuk petani binaan, kami juga beri bantuan permodalan,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, harga jual gabah yang ia beli di petani binaannya senilai Rp3.900 per kg. Katanya, kalau tidak percaya dengan omongannya, bisa langsung dicek ke petani.

Mendengar pengakuan itu, Gusli sedikit lega. Sebab menurutnya, nilai beli yang dilakukan Sulendra sudah cukup baik, walaupun masih punya selisih dengan nilai HPP (harga pokok penjualan) yang berkisar Rp4.200 per kg (jika dibeli di tingkat petani) sampai Rp4.250 per kg (jika dibeli ditingkat penggilingan).

GTS saat berbincang-bincang dengan para petani.

“Informasinya, gabah yang dibeli tengkulak dari petani itu Rp3.500. Menurut saya itu sangat rendah,” ujar GTS.

Dari gudang penggilingan, orang nomor dua di Kabupaten Konawe itu kemudian menghadiri udangan Kepala Desa Aleuti, Nining. Setibanya di tempat tujuan, Wabup dan rombongan langsung disambut tuan rumah, camat dan sejumlah petani.

Di sana pun Gusli kembali mendengarkan curahan hati para petani. Dan betapa kagetnya Gusli saat mendengar pengakuan petani kalau harga jual gabah mereka sangat jauh dari yang diharapkan.

“Tadi itu, gabah kami cuma dihargai Rp3.000 pak,” ujar Handoko dengan air wajah lesu.

“Iya, saya sendiri saksinya pak. Makanya gabah itu belum kami lepas,” timpal petani lainnya.

“Belum lagi, tiap karung (gabah) itu ada potongan 10 kg (sebagai susutnya, red). Mana racun mahal, pupuk mahal,” sambung Handoko.

Mendapati informasi itu, Gusli terhenyak. Ia kaget, karena informasi harga gabah yang baru saja ia dengar lebih parah lagi.

Pengakuan yang sama juga dituturkan Nanang, petani dari Desa Langgea. Menurutnya, harga gabah saat panen awal Mei masih menyentuh 4.100 per kg. Namun sekarang sudah anjlok.

“Untuk balik modal saja susah. Karena banyak pengeluaran. Mau tidak dijual, tapi KUR (kredit usaha rakyat) sudah harus dibayar,” ujarnya.

Hal mencengankan juga diperoleh Wabup ketika warga membahas terkait matinya 4 penggilingan skala kecil di Desa Aleuti. Dalam perbincangan itu berkembang informasi bahwa tidak beroperasinya keempat penggilingan itu lantaran hasil produksinya ditolak Bulog.

“Empat penggilingan kecil di desa kami ini mati. Akhirnya warga hanya menjual ke penggilingan besar saja,” terang Kades Aleuti.

Setelah menampung semua informasi warga, Gusli menyimpulkan kalau ada “permainan” tidak sehat itu terjadi di tingkat pengepul (peluncur) dan juga tengkulak (bos penggilingan). Menurutnya, mata rantai itulah yang harus diputuskan, agak petani dapat menjual gabahnya dengan harga yang layak.

“Besok, saya sudah agendakan pertemuan dengan Kepala Bulog Divre Sultra. Untuk membicarakan masalah ini,” tutup Gusli.

Sekira pukul 20.30 GTS dan rombongan bertolak dari kediaman Kades Aleuti. Hujan deras yang sudah berlangsung sejak sore diterabas raungan motor trail rombongan.

Laporan: Mas Jaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here