Konawe Gemilang dan Kebangkitan Ekonomi Kaum Perempuan

Wakil Bupati Konawe, Gusli Topan Sabara (foto: Biru / TRIBUN KONAWE)

Kekerasan Dalam Rumah Tangga alias KDRT banyak penyebabnya. Salah satunya karena faktor ekonomi. Dan yang banyak menjadi korban dalam kasus tersebut adalah kaum perempuan dan juga anak-anak.

Saat menanggapi maraknya angka kekerasan terhadap kaum perempuan dan anak, Wakil Bupati Konawe, Gusli Topan Sabara menyebut bahwa kebangkitan ekonomi sebagai solusinya. Cara yang dilakukan adalah melibatkan kaum perempuan dalam aktifitas kemandirian ekonomi.

Terkait program kemandirian ekonomi kaum perempuan, Pemda Konawe ternyata telah menyediakannya. Gusli pun memberi penjelasan terkait program tersebut di bidang perikanan.

Berdasarkan data, ada sekira 3.050 nelayan Konawe yang tercatat. Namun setelah datanya diverifikasi lagi, jumlah tersebut menyusut menjadi 1.800-an nelayan aktif. Rata-rata dari mereka merupakan kepala keluarga yang pekerjaannya menangkap ikan.

Dalam kondisi seperti ini, istri para nelayan tersebut masih bekerja pasif, sebagai ibu rumah tanggah. Belum menghasilkan sesuatu yang dapat menunjang kebutuhan ekonomi keluarga membantu sang suami.

Di sinilah peran Pemda Konawe dalam memberi dana stimulan kepada para ibu-ibu nelayan. Dana stimulan tersebut diperuntukan untuk program budidaya ikan air laut di karamba.

“Jadi suaminya pergi menangkap ikan di laut. Istrinya mengelola karamba. Dua-duanya sama-sama menghasilkan. Sejahteralah mereka nantinya,” ujarnya.

Selain itu lanjut Gusli, di daerah pesisir juga akan ada program 100 hektar tambak. Jumlah luasan tersebut akan melibatkan 400 kepala keluarga, termasuk melibatkan kaum perempuan dalam pengelolaannya.

Ada juga program pengembangan air payau. Luasan yang terdata untuk air daerah payau sendiri mencapai 1.800 hektar. Dari luasan tersebut, yang dapat difungsikan hanya antara 600 sampai 800 hektar. Tahun 2019 Pemda Konawe akan mulai memberikan stimulan untuk 100 haktar tambak ikan air payau.

“Pengelolaannya pun akan kita fokuskan untuk kaum perempuan,” jelasnya.

Untuk istri para petani, Gusli juga mengungkapkan, ada program 1.000 hektar kolam untuk perikanan darat. Untuk tahun 2019 akan diimplementasikan sekira 100 hektar luasan kolam.

Menurutnya, kolam tersebut akan menjadi bagian yang terintegrasi dengan lahan-lahan pertanian, seperti area persawahan. Luasan kolam untuk satu kepala keluarga ditarget sekira 5 kali 8 meter persegi. Dengan luasan tersebut kata Gusli, diharapkan mampu menampung dua ton ikan air tawar dengan rentan waktu empat bulan.

“Program ini juga untuk kaum perempuan. Saat suaminya bersawah, istrinya kelola tambak di persawahan itu juga. Bibitnya kita akan kasi,” imbuhnya.

Menurut Gusli, program pengembangan ekonomi mulai dilakukan besar-besaran tahun 2019. Total APBD yang disediakan sekira 40 persen. Persentasi alokasi program penguatan ekonomi tersebut kata dia, adalah yang terbesar sejak Kabupaten Konawe (Kabupaten Kendari) terbentuk. (Mj)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here