Lantik Pengurus MKKS SMP, Bupati Konawe Tekankan Sejumlah Poin Kerja

Bupati Konawe, Kery Saiful Konggoasa saat melantik pengurus MKKS SMP Konawe.

TRIBUN KONAWE: UNAAHA – Bupati Konawe Kery Saiful Konggoasa menghadiri rapat kerja MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) SMP Negeri, Swasta dan Satu Atap se-Kabupaten Konawe di salah satu hotel Kota Unaaha, Selasa (16/2/2021). Orang nomor satu di daerah lumbung beras Sultra ini juga turut melantik pengurus MKKS untuk massa bakti 2020-2024.

Saat memberikan sambutannya, Kery menuturkan, sebagai agen pembelajar seorang kepala sekolah (Kepsek) harus memiliki lima kompetensi. Antara lain, yakni kompetensi manajerial, kewirausahaan, supervisi, kepribadian dan sosial. Kelima kompetensi tersebut kata Kery akan melahirkan tindakan cerdas dan bertanggungjawab dari Kepsek yang bersangkutan.

Kery menjabarkan, kempetensi manajerial kepala sekolah adalah kemampuan untuk melakukan aktifitas manajemen yang dilakukan Kepsek secara prosedural untuk memberdayakan semua sumber daya yang tersedia untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien.

Menurut Kery, ada 15 kompentensi manajerial yang jarus dimiliki seorang Kepsek. Tiga diantaranya, yakni menyusun perencanaan sekolah/madrasah untuk berbagai tingkatan perencanaan. Kemudian, mengembangkan organisasi sekolah/madrasah sesuai kebutuhan. Selanjutnya, memimpin sekolah/madrasah dalam rangka pendayaagunaan sumber daya sekolah/ madrasah secara optimal.

Sementrara kompentensi kewirausahaan lanjut Kery, merupakan kompetensi penting yang harus dimiliki oleh kepala sekolah. Dengan menguasai komptensi tersebut Kepsek akan mudah mengembangkan sekolah agar lebih efektif dan efisien, serta dapat menciptakan inovasi yang berguna.

Untuk Kompetensi supervisi kata Kery, akan efektif terjadi jika staf, peserta didik, dan orang tua memandang Kepsek sebagai orang yang tahu persis tentang hal-­hal yang terjadi disekolahnya. Dalam kontek ini, dengan melakukan supervisi maka akan dilakukan tindakan kunjungan kelas, berbicara dengan guru, peserta didik, dan orang tua, mengikuti perkembangan masyarakat sekolah, orang-orang dan peristiwa yang terjadi dalam rangka memenuhi tanggungjawab tersebut.

Sedangkan kompetensi kepribadian kata Kery, akan terlihat dari integritas kepribadian yang kuat. Dalam hal ini ditandai dengan konsisten dalam berfikir, berkomitmen, tegas, disiplin dalam menjalankan tugas. Kemudian, memiliki keinginan yang kuat dalam mengembangkan diri Kepsek, dalam hal ini meliputi memiliki rasa keingintahuan yang tinggi terhadap kebijakan, teori, praktik baru, mampu secara mandiri mengembangkan diri sebagai upaya pemenuhan rasa ingin tahu.

Terkahir, kompetensi sosial, yakni kemampuan untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien, baik dengan peserta didik, guru ,orang tua/wali, dan masyarakat sekitar. Seseorang yang memiliki kompetensi sosial akan nampak menarik, empati, kolaboratif, suka menolong, menjadi panutan, komunikatif, dan kooperatif.

“Kelima kompetensi ini wajid dimiliki seorang kepala sekolah,” jelas Kery.

Selain itu, Bupati Konawe dua periode ini juga menekankan agar Kepsek bisa bekerjasama dengan para guru di sekolahnya sebagai sebuah paket team work (tim kerja). Untuk persoalan tersebut, Kery menekankan enam poin yang harus diperhatikan Kepsek.

Pertama, membuat program sekolah. Kedua, pengorganisasian sekolah. Ketiga, pengoperasian sekolah. Keempat, menjalin komunikasi sekolah. Kelima, menata kepegawaian sekolah. Keenam, mengatur pembiayaan sekolah.

Tugas seorang Kepsek tidak hanya terbatas membuat program dan poin-poin lainya. Akan tetapi masih banyak hal lainnya yang perlu dilakukan seorang Kepsek agar sekolahnya bisa lebih maju dan berdaya saing. Semua itu dibutuhkan kreativitas dan inovasi dari seorang kepala sekolah,” terannya.

Mantan Ketua DPRD Konawe ini juga menyarankan untuk tetap menjaga lingkungan sekolah baik secara fisik maupun spikologis. Lingkungan sekolah secara fisik maksudnya dengan memperhatikan ruang belajar, meja, kursi, penerangan dan sirkulasi udara. Sedangkan lingkungan spikologis artinya, menjaga hubungan harmoni antar guru, siswan dan juga orang tua siswa.

“Semuanya harus dielaborasi dengan baik baik agar menghadirkan suasana sekolah yang benar-benar nyaman bagi para guru dan siswa,” pungkasnya.

Laporan: Mj

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here