Menambang Ilegal, Direktur PT NBP Dituntut 7 Tahun Penjara dan Denda Rp2 M

Suasana persidangan terhadap tujuh tersangka perkara PT Naga Bara Perkasa (NBP) di Pengadilan Negeri (PN) Unaaha, Selasa (14/7/2020) yang dilakukan secara online melalui video conference.

TRIBUN KONAWE: UNAAHA – Sidang lanjutan perkara PT Naga Bara Perkasa (NBP) kembali digelar, Selasa (1/9/2020). Kali ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Konawe membacakan tuntutan untuk semua terdakwa.

Direktur PT NBP, Tuta Nafisa dituntut 7 tahun penjara dan denda senilai Rp2 Miliar (M). Smentara, keenam pekerja di perusahaan PT NBP, masing-masing dituntut tiga tahun penjara dan denda sebesar Rp1,5 M. Mereka adalah Rahman (21) dan Sultan (35) sebagai pengawas. Sedangkan Edi Tuta (53), Ilham (20), Arinudin alias Pele (44), dan Muh Alfat (22) sebagai operator alat berat Excavator.

Dari hasil pemeriksaan saksi pada sidang-sidang sebelumnya, ketujuh terdakwa terbukti melakukan pemanfaatan kawasan hutan lindung di Blok Matarepe, Kabupaten Konawe Utara tanpa dilengkapi izin pinjam pakai kawasan hutan (IPPKH) dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup RI.

Proses persidangan dilakukan secara online melalui teknologi video conference. Sidang tetap berlangsung di ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Unaaha, sedangkan para terdakwa mengikutinya dari Rutan Kelas II B Unaaha.

Sidang dipimpin langsung oleh Ketua PN Unaaha Febrian Ali, SH, MH. Di hadapan para terdakwa ia mengungkapkan bahwa terdakwa Tuta Nafisa dinyatakan bersalah, kemudian dijatuhi pidana selama 7 tahun penjara dan denda sebesar Rp 2 Miliar. Apabila terdakwa tidak dapat membayar denda tersebut maka diganti dengan kurungan penjara selama 6 bulan.

Kata dia, penasehat hukum akan mengajukan pembelaan secara tertulis dan memohon waktu kepada majelis hakim untuk waktu satu minggu. Namun karena proses persidangan perkara lingkungan ini di batasi dengan waktu 45 hari kerja. Maka majelis memberikan kesempatan kepada terdakwa atau penasehat hukumnya untuk mengajukan nota pembelaan secara tertulis pada Kamis 3 September 2020.

“Para terdakwa tetap berada dalam tahanan, nanti akan dihadapkan kembali oleh Jaksa Penuntut Umum pada persidangan selanjutnya. Untuk itu sidang selesai dan ditutup,” kata Febrian Ali sambil menutup sidang dengan palu.

Laporan: Mas Jaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here