Pihak RS Konawe Ungkap Kronologis Cacatnya Hidung Pasien Bayi Usai Dirawat

Juru bicara RS Konawe, dr. Dyah Nilasari.

TRIBUN KONAWE: UNAAHA – Hati siapa yang tak pilu melihat sang buah hati harus mengalami cacat usai menjalani rawat inap di Rumah Sakit (RS). Kejadian itu tersebut baru-baru ini menarik perhatian warga Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

Adalah bayi mungil berinisial MZA harus mengalami kondisi memilukan itu. Usai mendapatkan perawatan insentif di BLUD RS Konawe selama beberapa hari, tulang lunak yang jadi penyekat antara dua lubang hidung pada si bayi hilang. Alhasil, dua lubang hidung si bayi terlihat menyatu.

Keadaan itu pun langsung viral di media sosial. Ada akun yang mengaku keluarga bayi tidak terima atas kondisi tersebut. Salah satu NGO, Lumbung Informasi Rakyat (Lira) Konawe juga turut angkat bicara melalui bupatinya, Satriadin. Ia meminta agar pihak RS Konawe bertanggungjawab atas hal tersebut.

Menanggapi hal itu, pihak RS Konawe menggelar konfrensi pers untuk meluruskan informasi yang dinilai banyak menyudutkan pihak RS. Juru bicara RS Konawe, Dyah Nilasari pun menerangkan kronologisnya.

Pada tanggal 28 Mei 2021, pasien bayi yang kala itu masih berumur 23 hari masuk ke UGD RS Konawe. Keluhannya, yakni demam tinggi, sesak napas dan kejang-kejang sejak dari rumah. Pihak medis pun langsung memberikan pertolongan dengan memasangkan alat bantu pernapasan berupa selang oksigen. Akan tetapi hal itu masih kurang membantu. Keadaan si bayi belum membaik dan masih sesak napas.

Melihat kondisi itu, pihak medis merasa bahwa si bayi harus mendapatkan tindakan lebih. Ibu si bayi pun diberikan penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan terhadap anaknya. Si ibu diberi edukasi terkait cara kerja dan efek samping dari tindakan yang akan dilakukan.

Kondisi hitung bayi MZA yang tulang lunak penyekat hitungnya telah tiada.

Si ibu yang notabene adalah seorang bidan diberi penjelasan agar bayinya dipasangkan alat bantu pernapasan yang disbut continuous positive airway pressure (CPAP). Oleh tenaga medis diterangkan bahwa alat tersebut dapat membantu menyuplai oksigen ke paru-paru dan otak si bayi. Akan tetapi diterangkan pula bahwa alat tersebut punya efek samping pada paru-paru, luka pada hitung.

“Keadaan terberat dari efek samping itu adalah terjadinya erosi sampai terlepasnya cuping atau tulang rawan. Dan untuk prosedur ini ada bukti tanda tangannya bahwa keluarga menyetujuinya,” ujarnya.

Selanjutnya, pada tanggal 29 Mei, ibu bayi meminta agar alat bantu (CIPAP) dilepas. Karena hal itu permintaan keluarga pasien, pihak medis pun mengamininya. Ternyata, setelah itu kondisi bayi memburuk. Badanya membiru dan susah bernapas. Alat CPAP pun kembali dipasangkan.

Pada tanggal 30 Mei, karena kondisi bayi belum membaik, pihak RS menginstruksikan keluarga agar pasien dirujuk ke RS Bahteramas untuk diberikan alat bantu pernapasan berupa ventilator. Akan tetapi, setelah pihak RS Konawe mengkonfirmasi ke pihak RS Bahteramas, ternyata ventilator bayi di sana juga tengah rusak.

Pada waktu itu, pihak RS Konawe mendapati informasi bahwa RS Hermina punya alat ventilator bayi. Namun, karena RS itu merupakan RS swasta dan belum ada kerjasama BPJS, pihak keluarga pasien keberatan dengan alasan biaya.

“Kita pun tetap kasi solusi dengan menawarkan agar pasien tetap dirawat di sini, namun dengan bantuan alat CPAP,” jelas Nila.

Dokter spesialis radiologi itu kembali menerangkan, kondisi bayi kemudian membaik sekira tanggal 2 Juni. Pihak medis pun melepas CPAP dari hidung bayi. Saat itu kondisi hidung bayi sudah luka. Sembari membesarkan hati hati keluarga pasien tentang kondisi luka pada hidung bayi, perawat juga menerangkan kalau kondisi paru-paru dan otak bayi sudah normal.

Pada tanggal 7 Juni, pasien akhirnya diperbolehkan pulang. Akan tetapi, pihak RS memberi saran untuk tetap melakukan kontrol terhadap si bayi, khususnya terkait luka pada hitung bayi.

Pada hari itu juga kata Nila, pihak Humas RS Konawe menerima masukan dan komplain keluarga bayi. Pihaknya pun langsung menindaklanjuti dengan menghubungi dokter yang menangani si bayi, kepala ruangan dan pihak keluarga.

Pada tanggal 8 Juni, keluarga korban dan petugas medis, mulai dari dokter hingga kepala ruangan yang menangani bayi selama masa perawatan dipertemukan. Nila menilai pertemuan hari itu telah selesai, karena ayah dan ibu korban telah sepakat terkait tindakan selanjutnya.

“Kami menawarkan untuk membantu memfasilitasi oprasi bedah plastik untuk pasien di Bahteramas. Sebisa mungkin keluarga pasien tidak akan keluar uang untuk biayanya, karena selain ada BPJS, kami juga turut serta membantu. Makanya ini sudah clear,” terangnya.

Nilai menilai, bantuan itu bukan bukan dilakukan karena adanya kesalahan prosedur yang dilakukan pihak RS sebelumnya. Akan tetapi, lebih kepada rasa kemanusiaan untuk saling membantu. Terlebih kasus tersebut merupakan hal pertama yang terjadi di RS Konawe.

Nila menampik jika bantuan itu diberikan sebagai permintaan maaf dan pertanggungjawaban dari pihak RS. Menurutnya, jika hal itu diberikan atas pertanggungjawaban maka jelas ada kesalahan prosedur. Namun dalam kasus tersebut, pihaknya merasa telah bekerja sesuai SOP. Semuanya dapat dibuktikan dengan hasil rekam medis.

Lalu, bagaimana sikap pihak RS tentang adanya upaya pihak lain yang akan memperkarakan masalah tersebut ke ranah hukum? Nila mengaku kalau pihak RS siap, karena pihaknya merasa telah melakukan yang terbaik kepada pasien sesuai SOP. Pihaknya bahkan akan melapor balik ke aparat hukum kepada pihak-pihak yang diduga telah menyebar hoax atas kasus tersebut.

“Kalau tidak ada itikad baik untuk mengklarifikasi, kami bisa lapor balik. Kami sudah siapkan bukti-buktinya. Masalah ini bukanlah kesalahan dari manusia (tenaga medis) akan tetapi lebih karena efek samping dari penggunaan alat medis,” pungkasnya.

Laporan: Mas Jaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here