Reses di Wonggeduku, Abdul Ginal Sambari Beber Sejumlah Program Kerakyatan

Anggota DPRD Konawe, Abdul Ginal Sambari dalam sebuah agenda reses di Desa Wawoone Kecamatan Wonggeduku (foto: Mas Jaya / TRIBUNKONAWE.COM)

TRIBUN KONAWE: UNAAHA – Anggota DPRD Konawe, H. Abdul Ginal Sambari menggelar reses di Desa Wawoone, Kecamatan Wonggeduku, Kabupaten Konawe, Rabu malam (20/2/2019). Acara tersebut dihadiri sejumlah kepala desa, tokoh agama, tokoh adat dan masyarakat umum.

Mengawali pembicaraannya dalam acara reres, Ginal membeberkan sejumlah program yang telah berhasil di masukan di Kecamatan Wonggeduku. Antara lain, program pembangunan Pasar Duriasi yang telah dianggarkan tahun ini senilai Rp2 M.

“Ini berhasil kami usulkan dari dana APBN langsung. Nanti akan sama dengan pasar di Kecamatan Amonggedo. Nanti nama pasarnya juga akan berubah menjadi pasar Kotubitara. Ini menunjukan identitas lokal Wonggwduku yang dikenal sebagai Kotubitara Wuta,” ujar pria yang telah didapuk sebagai Kotubitara itu.

Selain pasar, anggota dewan dari Partai Golkar itu juga mengungkapkan pihaknya telah meloloskan program normalisasi saluran air di Wonggeduku. Hasilnya, tidak ada lagi banjir yang terjadi di Desa Wawoone, Wukusao dan desa-desa lainnya.

“Tahun ini juga akan ada program pengaspalan jalan di Wonggeduku. Pengaspalan akan melintasi desa Tawaro Olondo, Anggoro dan Wawoone,” terang pria yang akrab disapa Opa Kumis oleh warganya itu.

Pada kesempatan itu, warga kemudian diberi kesempatan untuk mengutarakan aspirasinya. Salah seorang warga meminta agar program tari Mondotambe diaktifkan dalam acara-acara semisal pesta adat pernikahan.

Ada juga yang meminta agar pemerintah menyiapkan bibit ikan dari program pembuatan empang di Desa Wukusao. Kemudian, ada juga yang memberi masukan terkait musim tanam yang kadang tidak seragam diakibatkan kurangnya alat traktor.

Selain itu, ada pula masukan agar guru mengaji di tiap desa agar diperhatikan honornya. Terakhir, Ginal juga mendapati curhatan warga terkait honor aparat desa yang hanya cair tiga bulan untuk tahun 2018 yang lalu.

Menanggapi hal itu Ginal mengungkapkan, untuk honor aparat desa 2018, telah dibayarkan lagi yang empat bulannya. Sehingga total honorn yang telah dibayarkan sudah tujuh bulan.

Sedangkan honor guru mengaji menurutnya sejauh ini masih melekat di Alokasi Dana Desa berdasarkan Perda. Sehingga, pihak desa-lah yang seharusnya membayarkan honor itu.

Sementara untuk traktor, Ginal menyebut kalau bantuan yang datang baik dari pusat, provinsi atau pun daerah sendiri itu banyak. Hanya kadang penyaluran di lapangan yang tidak tepat sasaran atau dengan kata lain, siapa dekat dia dapat.

Untuk masalah Tari Mondotambe, Ginal meminta pemerintah desa melihat peluang ini. Bahkan bisa mendirikan sanggarnya sebagai pusat pelatihan tari, agar bisa dimanfaatkan ketika ada acara-acara hajatan.

“Kalau perlu, semua tari-tari suku bangsa lainnya yang ada di Wonggeduku, seperti Jawa, Sunda dan Bugis bisa kita berdayakan juga. Agar bisa dipamerkan saat acara-acara kabupaten,” terangnya.

Terkait penyaluran bibit ikan, Ginal meminta warga tiap desa untuk membuat proposalnya. Ia berjanji akan membawa proposal tersebut di instansi terkait sampai disalurkan ke masyarakat.

Ginal juga menerangkan, pada tahun ini akan ada program cetak empang di empat desa di Wonggeduku. Program itu sudah termasuk dengan pengadaan bibit ikannya juga.

“Dan untuk diketahui juga, program bapak bupati dan wakilnya ada yang namanya program sejuta ekor sapi. Nah, program ini juga bisa kita berdayakan untuk masyarakat. Silahkan buat proposalnya,” jelasnya.

Gina juga menambahkan, tahun ini Pemda Konawe telah menganggarkan Rp23 M untuk mengadaan pupuk. Pupuk itu nantinya akan diberikan untuk petani se-Kabupaten Konawe. Penyalurannya akan dibagi-bagikan di BUMDes masing-masing.

Laporan: Mas Jaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here