Rukun Keluarga Moronene Meriahkan Karnaval Budaya HUT Konut

Ketua RKM, Hj. Sitti Saleha (tengah, baju merah) saat berpose bersama peserta karnaval budaya lainnya di Konut.

TRIBUN KONAWE: KONAWE UTARA – Rukun Keluarga Moronene (RKM) mengikuti Karnaval Budaya Nusantara di Wanggudu, Kecamatan Asera, Kabupaten Konawe Utara (Konut), Minggu (2/1/2022). Kegiatan tersebut digelar dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-15 Konut.

Kegiatan karnaval budaya diikuti 48 paguyuban se-Sultra. Sebagai suku tertua di Sultra, Moronene menempati urutan pertama pada kegiatan tersebut. Rombongan karnaval Moronene dipimpin langsung Ketua RKM, Hj. Sitti Saleha yang juga merupakan Kadis Perindag Sultra.

Pada kesempatan tersebut, panitia pelaksana membacakan awal mula suku Moronene. Suku Moronene merupakan suku yang kebanyakan mendiami wilayah Kabupaten Bombana dan  Suku Moronene adalah salah satu suku besar yang terdapat di Sulawesi Tenggara.

Para pakar antropologi berkeyakinan bahwa orang Moronene ini adalah penghuni pertama wilayah ini (Sultra). Mereka tergolong suku bangsa Proto Malayan (Melayu Tua) yang datang dari Hindia, pada zaman prasejarah atau zaman batu muda, kira-kira 2 ribu tahun sebelum Masehi.

Ketua RKM, Hj. Sitti Saleha saat menandatangani deklarasi damai mewakili paguyuban Unaaha.

Namun sekitar abad 18, mereka tergusur oleh semakin berkembangnya penduduk atau suku lain yang juga menghuni wilayah ini.

Istilah “Moronene” berasal dari kata “moro” yang berarti “serupa” dan “nene” yang berarti “pohon resam”. Pohon Resam adalah sejenis tanaman paku (pakis), yang banyak ditemukan di daerah ini. Kulit batangnya bisa dijadikan tali, sedangkan daunnya adalah pembungkus kue lemper.

Resam hidup subur di daerah lembah atau pinggiran sungai yang mengandung banyak air. Daerah pemukiman suku Moronene biasanya di daerah yang banyak kawasan sumber air.

Suku Moronene adalah bangsa nomaden, yang selalu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, hingga akhirnya mereka menetap di kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai.

Kampung pemukiman suku Moronene ini tersebar di beberapa kabupaten di Sulawesi Tenggara termasuk Kota Kendari, mereka mengungsi dan bermigrasi akibat gangguan keamanan sekitar tahun 1952-1953.

Para peserta karnaval budaya dari paguyuban suku Moronenenya.

Dalam pergaulan sehari-hari dijumpai bahwa pada umumnya masyarakat suku Moronene itu peramah, menghormati yang tua dan suka menjalin persahabatan.

Beberapa istilah sopan santunnya antara lain Ampadea. berlaku sopan, contoh bila orang tua sedang berbicara, anak-anak  tidak boleh ikut campur atau tidak ikut berbicara.

Setiap berkunjung ke Bombana, ada beberapa tempat menarik yang perlu dikunjungi. Salah satunya desa adat Hukaea Laea Kecamatan Lantari Jaya. Di desa ini, warganya masih memegang teguh adat istiadat.

Sesuatu yang unik di desa itu adalah sistem kekerabatan. Para wanita di Desa Hukaea ini diperbolehkan hanya bisa menikah dengan pria yang tinggal di lingkungan desa mereka. Jika diketahui ada wanita yang menikah dengan pria dari luar Desa Adat Hukaea Laea, maka tidak diizinkan tinggal di kampung adat tersebut sehingga harus keluar kampung.

Namun anehnya, itu cuma berlaku bagi wanita. Sedangkan pria diberikan kebebasan untuk mencari wanita, baik yang berasal dari Desa Adat Hukaea Laea maupun yang berasal dari luar desa.

Laporan: redaksi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here