Selayang Pandang BLUD RS Konawe: 30 Tahun Berjaya

Gedung meg

Gedung baru Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit (RS) Kabupaten Konawe telah beroperasi. Tampilannya yang megah dan modern membuatnya tampak bak hotel berbintang.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati tak bisa menyembunyikan kekaguman dan kebanggaannya atas mahakarya tersebut. Hal itu ia ungkapkan saat hadir dalam Soft Opening gedung BLUD RS Konawe, Rabu (29/8/2018).

Kemegahan gedung RS Konawe yang baru tersebut ternyata menyimpan sebuah cerita panjang yang belum banyak diketahui generasi muda saat ini. Metamorfosis RS Konawe ada sejak era Presiden Soeharto hingga era Jokowi.

RS Konawe sendiri pertama kali diresmikan pada 27 Agustus 1988. Ketika itu, peresmian dilakukan langsung oleh Presiden Soeharto.

Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati saat bertandang ke BLUD RS Konawe

Kala itu, Konawe sendiri masih bernama Kabupaten Kendari. Dan RS Konawe masih bernama Rumah Sakit Umum (RSU) Kabupaten Kendari.

Ketika itu, status RS pun masih bertipe D dengan pelayanan dan fasilitas yang belum begitu memadai. Setelah 9 tahun beroperasi pasca peresmian, status RS naik menjadi tipe C pada tahun 1997.

Setelah Kendari menjadi kota madya 2002, Konawe akhirnya menjadi kabupaten tersendiri. RSU Kendari yang bertempat di Unaaha juga menjadi aset dari Kabupaten Konawe yang kemudian dikenal sebagai Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Konawe.

Selanjutnya pada 2010, status RSUD Konawe berubah menjadi BLUD atau sekarang dikenal BLUD RS Konawe. Perjuangan pembangunan gedung baru RS Konawe dimulai sejak 2013 saat kepemimpinan Bupati Konawe, Kery Saiful Konggasa.

Ketika itu telah ada misi pemerintahan untuk menciptakan pelayanan kesehatan yang lebih baik kepada warga Konawe, dan daerah lain pada umumnya. Pembangunan RS baru, menjadi rencana yang paling dinanti.

Tahun 2014 Pemda Konawe mengajukan pinjaman ke Pusat Investasi Pemerintah (PIP). Namun seiring berjalannya waktu, Pemda di bawah nahkoda Kery kaget saat mengetahui PIP melebur ke PT Sarana Multi Insfrastruktur (SMI).

Menyadari hal tersebut, Pemda kemudian mengajukan permohonan ke PT SMI dengan meminta persetujuan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

“Tahun 2015, kami kembali berurusan. Di Kemendagri kami berurusan selama 7 bulan. Di Kemenkes 4 bulan. Dan di Kemenkeu alhamdulillah hanya 20 hari,” ungkap Direktur BLUD RS Konawe, dr. H. Muh. Agus Lahida di hadapan Menkeu.

Tahun 2016, Pemda Konawe akhirnya mendapat kepercayaan dari PT SMI untuk sokongan dana pembangunan RS. Jumlah kucuran dananya mencapai Rp231 miliar.

Penampakan gedung lama BLUD RS Konawe (foto: Biru / TRIBUN KONAWE)

Pada 17 Februari 2017, Kery Saiful Konggoasa secara resmi membuka acara penancapan tiang panjang RS. Pembangunan tersebut ditarget terselesaikan dalam jangka waktu 18 bulan dan dikerjakan oleh salah satu perusahaan BUMN.

Rabu (29/8/2018) gedung senilai Rp231 miliar akhirnya diresmikan oleh Menkeu, Sri Mulyani. Acara Soft Opening itu juga dihadiri sejumlah pejabat eselon 1 Kemenekeu, Penjabat Gubernur Sultra dan direktur-direktur RS se-Sultra.

Selama era Soeharto hingga Jokowi, sejumlah direktur diketahui pernah menjabat pimpinan RS Konawe. Mereka adalah dr. I Wayan Sutarga (1989-1991), dr. Renvil Amiruddin (1991-1994), dr. H. Ridwan Nurdin (1994-1996), dr. H Muh. Arifin (1996-2001), dr. Aston Kaunang (2001-2008), dr H Muh. Agus Lahida (2008-2011), dr. Aston Kaunang Januari 2011-Februari 2011), dr. Giat Bernard Silalahi (2011-2012) dan kembali ke dr H. Muh. Agus Lahida (2012 sampai sekarang).

Agus menerangkan, sejak kepemimpinan Kery pada tahun 2013 hingga sekarang terjadi progres penghasilan RSUD Konawe secara signifikan. Misalnya saja, tahun 2013 pendapatan RS hanya Rp3M. Sementara tahun ini bisa mencapai Rp40 M.

“Pendapatan ini juga akan mendorong pelayanan di rumah sakit ini kedepannya,” pungkasnya. (Mj)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here