Sosok Cici Ita Ristianty Dianggap Pantas Gantikan GTS Sebagai Wabup Konawe

Almarhum Gusli Topan Sabara bersama istrinya, Cici Ita Ristianty (CIR). CIR saat ini digadang-gadang pantas menggantikan posisi suaminya sebagai Wabup Konawe.

TRIBUN KONAWE: UNAAHA – Yasinan peringatan 7 malam wafatnya Wakil Bupati (Wabup) Konawe, Gusli Topan Sabara (GTS) berlangsung khidmat di kediaman orang tua almarhum di Kecamatan Sampara, Kamis (12/8/2021). Acara tersebut dihadiri ratusan warga serta sejumlah tokoh.

Usai pelaksanaan acara, sejumlah tokoh masyarakat adat dan simpatisan GTS langsung menggelar pertemuan di salah satu rumah. Pertemuan itu digelar untuk membicarakan kekosongan jabatan Wakil Bupati Konawe dan siapa yang akan mengisinya.

Dari pembicaraan yang berkembang, para tokoh berharap yang menggantikan posisi almarhum adalah dari garis keluarga. Ada dua sosok yang digadang-gadang.

Mereka adalah Cici Ita Ristianty (CIR) dan Muhammad Thariq Sabara (MTS). CIR merupakan istri mendiang. Sedangkan MTS adalah putra sulungnya.

Pertemuan itu tak hanya membicarakan siapa sosok penerus estafet GTS di kursi Wakil Bupati Konawe. Akan tetapi juga sekaligus membentuk tim negosiasi yang akan bertemu dengan Bupati Konawe.

Tim negosiasi tersebut diketuai oleh Dr. Suryadi. Ia sendiri selain menjadi tokoh, juga Anggota tim terdiri atas masyarakat adat, unsur parpol dan birokrat.

Tim, optimis kalau Bupati Konawe Kery Saiful Konggoasa (KSK) akan memberi lampu hijau atas usulan mereka yang juga representasi dari pendukung GTS. KSK dinilai punya respek dan sangat menghormati GTS semasa hidup.

Tim menilai, perjalanan karir politik antara KSK dan GTS selama ini selalu saling melengkapi. Saat KSK menjabat bupati diperiode pertama, GTS adalah orang yang menggantikannya di posisi Ketua DRPD Konawe. Saat KSK menghabiskan periode kepemimpinannya sebagai Ketua DPD PAN Konawe, GTS pula yang melanjutkan estafet itu.

Saat hendak mencalonkan sebagai bupati diperiode kedua, KSK memilih untuk meminang GTS sebagai teman duetnya. Duet keduanya selama hampir tiga tahun ini dinilai sangat kompak. KSK mengurusi investasi dan lebih banyak di lapangan. Sedangkan GTS diperintahkan untuk menjaga gawang pemerintahan di ibu kota Unaaha.

Saat GTS jatuh sakit di RS, KSK dengan cepat menyambangi RS. Tak henti-hentinya ia meminta masyarakat turut mendoakan dan memerintahkan tim medis untuk memberikan perawatan terbaik.

Saat GTS wafat, KSK juga langsung ke RS. Saat di rumah duka, dengan berlinang air mata, KSK turut melepas jasad almarhum sebelum di kebumikan di tempat peristirahatannya yang terakhir. KSK dengan terang mengatakan bahwa kontribusi GTS terhadap Konawe selama ini sangat besar.

“Pada dasarnya, ada keinginan dari keluarga dan aspirasi masyarakat agar pengganti GTS untuk posisi wakil bupati itu dari garis keluarga almarhum,” jelas Suryadi.

Jika dilihat dari pengalaman yang ada di daerah lain, sosok pengganti suami yang tidak lagi menjabat biasanya dilanjutkan oleh garis keluarga. Tentu saja orang diditunjuk itu harus mendapat restu dari kepala daerah dan juga partai pengusung.

Adriatma Dwi Putra saat melepas jabatan Wali Kota Kendari, posisinya digantikan wakilnya, Sulkarnain. Akan tetapi, posisi Wakil Wali Kota Kendari diberikan kepada istri Adriatma, Siska Karina Imran.

Hal yang sama juga terjadi di Kolaka Timur. Saat Bupati Samsul Bahri Majid wafat, posisi Bupati langsung diserahkan kepada wakilnya, Hj. Andi Merya Nur. Untuk posisi wakil bupati yang kosong, banyak yang menginginkan agar diisi oleh istri mendiang dalam hal ini, Diana. Andi Merya sendiri bahkan secara terang-terangan mendukung hal tersebut.

Lalu, akankah Konawe mengikuti jejak itu setelah sepeninggal Wakil Bupati Konawe Gusli Topan Sabara?

Laporan: redaksi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here