Syahlan Tolak Rompi Tahanan Hingga Minta Diantar Mobil Pribadi ke Rutan

(kiri) Kasat Pol PP Konawe, Syahlan Saleh Saranani saat di ruang tunggu Rutan Kelas II B Unaaha. (kanan) Syahlan saat berada di mobil tahanan (foto: Asrun dan Saldy / tribunkonawe.com)

TRIBUN KONAWE: UNAAHA – Kepala Satuan (Kasat) Polisi Pamong Praja (Pol PP) dan Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Konawe, Syahlan akhirnya digelandang ke Rutan kelas II B Unaaha, Senin 26/8/2019). Ia ditahan setelah menjalani pemeriksaan sebagai tersangka selama beberapa jam di Mapolres Konawe.

Saat tengah menjalani pemeriksaan Syahlan sempat meminta kepada penyidik untuk tidak mengangkutnya dengan mobil tahanan ketika digelandang ke Rutan. Ia meminta agar memakai mobil pribadinya saja.

Akan tetapi, polisi tidak mengindahkan pemintaan dari Aparatur Sipil Negara (ASN) senior Konawe itu. Aparat berdalih, jika mereka harus sesuai SOP dalam bekerja, sehingga Syahlan tetap akan dibawa dengan mobil tahanan.

Syahlan juga menolak untuk mengenakan rompi khas tahanan berwarna jingga. Menurutnya, kasus tersebut belum dalam putusan pengadilan, sehingga ia tidak pantas mengenakan rompi tersebut.

“Apa yang disangkan kepada saya itu tidak benar. Jangan mi saya pake baju tahanan itu karna belum juga putus,” ujar Syahlan.

Saat digelandang ke Rutan, Syahlan masih mengenakan seragam dinas lengkap. Sebenarnya ia juga sempat meminta keluarga untuk membawakan baju ganti. Namun tak kunjung datang hingga ia di bawa ke Rutan.

Kasat Reskrim Polres Konawe, Iptu Rachmat Zam Zam menuturkan, Syahlan terlibat dalam enam kasus korupsi. Antara lain, belanja makan minum, perjalanan dinas dalam daerah, perjalanan dinas luar daerah, belanja pemeliharaan kendaraan, belanja pemeliharaan kantor dan belanja jasa pegawai non PNS.

“Total kerugian negara berdasarkan hasil audit BPKP mencapai Rp240 juta lebih. Modusnya, tersangka membuat laporan pertanggungjawaban fiktif,” ujar pria berpangkat dua balak itu.

Selain Syahlan, ada satu lagi tersangka lain. Dia adalah mantan bendahara Satpol PP dan Damkanr Konawe, Faisal Hadi. Faisal telah menjalani pemeriksaan, Jumat (23/8/2019).

“Namun yang bersangkutan telah di tahan dalam kasus yang lain. Jadi dia kasusnya double,” terang jelasnya.

Terkait pasal yang disangkakan lanjut Rachmat, yakni pasal 2 dan 3 UU Tipikor, junto 55 KUHP. Hukuman minimal 1 tahun kurungan dan maksimal 15 tahun.

“Hari ini kami pastikan akan melakukan penahanan. Biar memberi efek jera bagi para pelaku korupsi,” tandansya.

Untuk masa penahanannya sendiri, Syahlan akan ditahan sementara selama 20 hari sambil menunggu kasus tersebut dibawa ke kejaksaan untuk dilanjutkan ke meja hijau.

Laporan: Mas Jaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here