Tidak Cukup Alat Bukti, Alasan Polisi tidak Lanjutkan Kasus Titin-Fachry

Kasat Reskrim Polres Konawe, Iptu Rachmat Zamzam (foto: Mas Jaya / TRIBUNKONAWE.COM)

TRIBUN KONAWE: UNAAHA – Kepolisian Resor (Polres) Konawe memberi keterangan terkait status kasus Titin Nurbaya Saranani dan Fachry Pahlevi Konggoasa. Polisi menilai ada dua alasan yang membuat kasus ibu dan anak Bupati Konawe itu tidak lanjut ke tahap penyidikan.

Kapolres Konawe, AKBP Muh. Nur Akbar, melalui Kasat Reskrim Iptu Rachmat Zamzam, menuturkan dalam proses penanganan dugaan pelanggaran kampanye Titin dan Fachry, punya tahapan. Tahap pertama merupakan tugas Bawaslu untuk melakukan verifikasi terhadap temuan. Selanjutnya, tahap penyidikan di Polres. Kemudian tugas jaksa untuk mengantar kasus itu ke pengadilan.

Dalam kasus ini, Bawaslu menggunakan Pasal 523 UU Nomor 7 Tahun 2017. Pasal ini menyebutkan, setiap pelaksana atau tim kampanye Pemilu dengan sengaja memberikan uang atau materi lain sebagai imbalan kepada peserta kampanye sebagai sebuah pelanggaran.

“Titin dan Fachry dalam hal ini adalah pelaksana. Sementara peserta adalah warga negara yang memiliki hak pilih,” ujar Rachmat via telepon, Kamis (14/2/2019).

Jika merujuk pada aturan itu lanjut Rachmat, Bawaslu wajib melakukan pemeriksaan terhadap peserta Pemilu, dalam hal ini penerima Sembako. Namun nyatanya, Bawaslu tidak melakukan hal tersebut.

“Bawaslu seharusnya wajib melakukan pemanggilan terhadap penerima. Supaya ditahu apakah dia termasuk peserta kampanye atau tidak. Karena bisa jadi penerima ini ternyata bukan wajib pilih di sana, belum cukup umur, atau dari unsur TNI Polri,” jelasnya.

Alasan selanjutnya, polisi juga mempertanyakan perihal saksi ahli yang tidak dimintai keterangannya dalam perkara itu. Padahal kata Rachmat, keterangan saksi ahli bisa menjadi alat bukti yang kuat dipenyidikan.

“Bagi penyidik, saksi penerima harus diperiksa. Dan harus ada keterangan saksi ahli,” terang pria dengan pangkat dua balak di pundaknya itu.

Pada dasanya kata Rachmat, penyidik dan jaksa setuju jika alat bukti dari Bawaslu cukup untuk dibawa ke penyidikan. Hanya saja, alat bukti itu tidak cukup kuat.

Untuk diketahui, Titin merupakan istri pertama Bupati Konawe, Kery Saiful Konggoasa. Ia tercatat sebagai Anggota DPRD Kabupaten Konawe Kepulauan dan Ketua Tim Penggerak PKK Konawe. Saat ini Titin tengah menjajal karir politik di Pilcaleg DPRD Sultra.

Sementara Fachry adalah putra sulung dari pasangan Titin dan Kery. Pria yang akrab disapa Nanda ini tercatat sebagai Ketua KNPI Konawe. Saat ini ia tengah menjajal karir politiknya di Pilcaleg DPR RI.

Baik Titin maupun Fachry sebelumnya diduga melakukan pelanggaran dengan membagi-bagikan Sembako kepada warga di Kecamatan Puriala, Meluhu dan Onembute. Bawaslu pun langsung memproses masalah tersebut.

Laporan: Mas Jaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here